Jakarta MonitorS.id
Seorang guru honorer di Blitar hanya digaji Rp144.000 per bulan. Bukan salah ketik. Di negeri yang mengaku menjadikan pendidikan sebagai prioritas, angka ini adalah tamparan telanjang bagi akal sehat.
Ironinya, negara dengan enteng
menggelontorkan Rp335 triliun untuk Program Makan Bergizi Gratis. Anak-anak diberi makan, tetapi gurunya dibiarkan hidup di batas kemiskinan. Perut siswa diisi, martabat pendidik dikosongkan.
Tak ada yang salah dengan makan gratis. Yang keliru adalah ketika negara sibuk mengurus piring, tapi menutup mata pada orang yang mengajari cara berpikir. Pendidikan tak lahir dari dapur anggaran, melainkan dari kesejahteraan guru.
Jika guru terus diperlakukan sebagai beban, bukan investasi, maka jangan heran bila yang tumbuh bukan generasi cerdas—melainkan generasi kenyang tanpa arah.
Red 01
11 total views, 11 views today
