Jakarta, Monitors,– Ancaman gangguan rantai pasok pangan dunia kembali menjadi perhatian setelah Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) mengingatkan potensi penutupan Selat Hormuz yang dapat memicu guncangan sistemik terhadap perdagangan pangan global.
Menanggapi situasi tersebut, Presiden Prabowo Subianto menegaskan pentingnya memperkuat kedaulatan pangan nasional melalui peningkatan produksi, inovasi, hilirisasi pertanian, serta kolaborasi seluruh elemen bangsa.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Langkah tersebut mulai menunjukkan hasil. Produksi beras nasional sepanjang 2025 tercatat mencapai 34,69 juta ton atau surplus sekitar 3,5 juta ton. Sementara itu, Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang dikelola Perum Bulog per 18 Mei 2026 mencapai 5,37 juta ton, tertinggi sepanjang sejarah.
Pemerintah juga mencatat kemajuan dalam upaya swasembada pangan. Dari 11 komoditas pangan strategis nasional, sebanyak delapan komoditas diproyeksikan tidak lagi memerlukan impor pada 2026. Capaian tersebut dinilai menjadi modal penting dalam menghadapi ketidakpastian geopolitik dan potensi gangguan distribusi pangan dunia.
Tak hanya fokus pada kebutuhan domestik, Indonesia mulai memperkuat perannya sebagai pemasok pangan global. Pemerintah telah mengirimkan 2.280 ton beras premium ke Arab Saudi dan menyalurkan bantuan kemanusiaan berupa 10.000 ton beras untuk Palestina.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan Indonesia siap menghadapi berbagai skenario terburuk terkait ketahanan pangan. Menurutnya, stok pangan nasional dalam kondisi aman dan terus diperkuat melalui peningkatan produksi dalam negeri.
Senada dengan itu, Wakil Menteri Pertanian Sudaryono menegaskan bahwa prioritas utama pemerintah tetap memastikan kebutuhan pangan masyarakat Indonesia terpenuhi sebelum memperluas peran sebagai pemasok dunia.
Sementara itu, perwakilan International Rice Research Institute, Inez Hortense SL, mengapresiasi keberhasilan Indonesia meningkatkan produksi dan cadangan pangan. Namun, ia mengingatkan bahwa tantangan ke depan masih besar, terutama terkait perubahan iklim, regenerasi petani, serta peningkatan kesejahteraan petani sebagai ujung tombak ketahanan pangan nasional.
Dengan capaian tersebut, Indonesia dinilai semakin siap menjaga stabilitas pangan nasional sekaligus berkontribusi dalam menjaga ketahanan pangan dunia di tengah meningkatnya ketidakpastian global.
(MS)
![]()













