Oleh: Mancay Tanjung
Arosuka MonitorS.id
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Pagi ini saya kembali menikmati secangkir kopi hangat sambil mengikuti perkembangan cerita yang semakin hari semakin menarik. Cerita yang awalnya terlihat sederhana, bahkan mungkin dianggap sepele oleh sebagian orang, kini telah menjelma menjadi bahan diskusi publik yang tidak ada habisnya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Namanya pun semakin terkenal.
Kuali Sakral Istana Kerajaan.
Disusul oleh sahabat setianya yang tidak kalah fenomenal.
Tabung Gas Sakral Monitor.
Entah siapa yang pertama kali memulai cerita ini. Yang jelas, awalnya hanya terdengar seperti percakapan Dongeng biasa. Cerita dapur. Cerita rumah tangga. Cerita yang semestinya selesai di tempat cerita itu dilahirkan.
Namun ternyata tidak.
Cerita itu tumbuh. Berkembang. Beranak pinak. Berpindah dari mulut ke mulut, dari grup ke grup, dari warung kopi ke media sosial.
Lalu muncullah berbagai versi.
Ada yang menjadi saksi.
Ada yang merasa mengetahui.
Ada yang menafsirkan.
Ada pula yang merasa paling memahami isi cerita.
Sampai akhirnya, kuali yang semula hanya alat memasak berubah menjadi benda yang seolah memiliki nilai sejarah seperti pusaka kerajaan.
Tabung gas yang semestinya hanya berfungsi sebagai sumber api, mendadak menjadi simbol yang mampu menghidupkan perdebatan panjang.
Lebih menarik lagi, dalam perjalanan cerita tersebut, perlahan-lahan nama Bupati Solok, Dr. Jon Firman Pandu, SH dan Bunda Kurniati ikut disebut dalam berbagai narasi yang berkembang.
Di titik inilah cerita menjadi semakin menarik.
Karena publik mulai bertanya.
Apakah ini benar-benar tentang kuali?
Apakah ini benar-benar tentang tabung gas?
Ataukah ada sesuatu yang lebih besar yang sedang dimainkan di balik layar?
Saya pribadi justru lebih tertarik pada pertanyaan itu.
Karena dalam pengalaman hidup, sering kali yang terlihat di permukaan hanyalah panggung.
Sementara naskah sesungguhnya ditulis di belakang tirai.
Maka jangan heran apabila banyak orang mulai menduga-duga.
Jangan heran pula jika ada yang mulai mencari siapa sutradara di balik drama ini.
Sebab publik tidak hanya melihat cerita.
Publik juga mulai membaca arah cerita.
Yang membuat saya TERSENYUM adalah ketika persoalan yang semula SEDERHANA kini bahkan telah memasuki wilayah Hukum.
Padahal kalau dipikir-pikir, nilai kuali mungkin tidak seberapa.
Harga tabung gas juga bisa dihitung.
Tetapi ketika sebuah narasi sudah menyangkut nama baik seseorang, menyangkut tudingan, menyangkut opini yang terus digiring tanpa kepastian fakta, maka persoalannya bukan lagi soal barang.
Persoalannya berubah menjadi soal tanggung jawab.
Inilah mengapa media sosial harus digunakan dengan bijak.
Karena satu kalimat yang ditulis untuk hiburan bisa berakhir menjadi persoalan hukum.
Satu tudingan yang dianggap candaan bisa berubah menjadi perkara yang serius.
Hari ini saya tidak ingin membahas siapa yang benar dan siapa yang salah.
Saya juga tidak ingin menjadi hakim dalam cerita ini.
Saya hanya ingin mengingatkan bahwa Kabupaten Solok memiliki persoalan yang jauh lebih besar untuk dipikirkan bersama.
Masih banyak masyarakat yang berharap perbaikan ekonomi.
Masih banyak anak-anak yang membutuhkan pendidikan yang lebih baik.
Masih banyak petani yang berharap harga hasil panennya membaik.
Masih banyak jalan yang perlu diperbaiki.
Masih banyak pelayanan publik yang harus ditingkatkan.
Dan. Masih banyak kepastian tentang carut marutnya Birokrasi ASN Hari ini.dan masih lemahnya kinerja OPD Dimasa Kepemimpinan Hari ini
Karena itu saya berharap energi kita tidak habis hanya untuk memperdebatkan Kuali Sakral dan Tabung Gas Sakral.
Biarlah proses hukum berjalan jika memang diperlukan.
Biarlah fakta yang berbicara.
Biarlah kebenaran menemukan jalannya sendiri.
Sementara kita tetap fokus mengawal perubahan yang telah menjadi harapan masyarakat Kabupaten Solok.
Sebab tujuan kita dari awal bukanlah untuk menciptakan kegaduhan.
Tujuan kita adalah perubahan.
Tujuan kita adalah pembangunan.
Tujuan kita adalah kesejahteraan masyarakat.
Dan jika suatu hari nanti misteri Kuali Sakral Istana Kerajaan serta Tabung Gas Sakral Monitor akhirnya terungkap, semoga yang tersisa bukanlah permusuhan, melainkan pelajaran berharga tentang pentingnya menjaga lisan, menjaga tulisan, dan menjaga persatuan.
Karena terkadang, sejarah tidak dimulai dari sesuatu yang besar.
Kadang-kadang sejarah dimulai dari sebuah kuali.
Dan sesekali, dari sebuah tabung gas.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh.
![]()













